Sri Mulyani : Di Klaten Tak Ada Serbuan Beras Impor

Bupati Klaten Sri Mulyani saat mengecek salah satu penggilingan padi di Desa Kepanjen Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten

carakanews.com/Klaten- Bupati Klaten Sri Mulyani menegaskan di Kabupaten Klaten tidak ada serbuan beras impor. Bahkan sampai Januari 2019 masih surplus beras sebanyak 131.188 ton, karena selama ini Klaten dikenal sebagai lumbung beras nasional.

Hal itu disampaikan Sri Mulyani untuk menanggapi pidato kebangsaan Calon Presiden (Capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto yang digelar di JCC Plenary Hall, Jakarta, Senin (14/01/2019) lalu yang menyatakan Kabupaten Klaten yang banjir beras impor.

“Saya kaget saja dengan pidato Pak Prabowo Subianto bahwa Klaten katanya banjir beras impor. Padahal Klaten dikenal sebagai lumbung pangan,” katanya.

Menurutnya, sejauh ini tidak ditemukan adanya serbuan beras impor di Kabupaten Klaten dan tidak ada petani di Klaten yang resah karena beras impor. Dan untuk memastikan Klaten bersih dari beras impor, Sri Mulyani mengecek langsung salah satu penggilingan padi milik Harjono (68 tahun) warga Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu, Klaten, Rabu (16/01/2019) siang.

Di tempat itu Sri Mulyani juga menjelaskan, luas panen padi di Klaten seluas 74.372 hektar dengan produktivitas  5,8 ton per hektar. Kemudian produksi gabah di Klaten sampai Januari 2019 sebanyak 431.359 ton atau setara 259.291 ton beras dan untuk kunsumsi beras rakyat Klaten 125.103 ton.

“Untuk harga gabah di tingkat petani Rp 5.600 sampai Rp 5.700 per kilogram dan harga gabah pembelian pemerintah Rp 4.600 per kilogram. Sedangkan harga beras premium Rp 10.300 per kilogram dan harga beras medium Rp 9.600 per kilogram, sehingga harga beras di Klaten tidak anjlok namun juga terjangkau masyarakat,” jelas Sri Mulyani.

Sementara itu Harjono salah seorang pengusaha penggilingan padi di Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu kepada wartawan mengatakan, di Klaten tidak ada serbuan beras impor dari luar negeri. Harjono yang kini juga menjabat sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Makmur Desa Kepanjen, mengaku tak ada beras impor yang masuk ke Klaten. Selama ini, Harjono masih bisa menggiling padi menjadi beras di tempat penggilingannya sebanyak 6 ton per hari.

“Di sini tak ada beras impor. Saya sendiri masih mudah memperoleh gabah setiap harinya. Saya juga dapat memasarkan beras di Klaten dan berbagai daerah di sekitar sini,” katanya.

telah dibaca: 1505 kali

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *