Candi Sojiwan Belum Maksimal Hasilkan Pendapatan Desa

Kades Kebondalem Kidul, Wahyu Tri Wibowo

carakanews.com/Prambanan- Keberadaan Candi Sojiwan di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten menjadi Icon menarik untuk Desa. Namun Candi yang awalnya berdiri di tanah Kas Desa tersebut belum bisa maksimal dalam memberikan pemasukan bagi Pemerintah Desa setempat.

Menurut Kepala Desa Kebondalem Kidul, Wahyu Tri Wibowo, candi Sojiwan saat ini dikelola Pemkab Klaten. Dari 5 kali gelaran Festival Candi Sojiwan, pada even pertama, kedua dan ketiga murni dari Pemerintah Desa Kebondalem kidul. Setelah ramai pengelolaan festival diambil alih menjadi event Kabupaten dan pelaksanaannya adalah Pemerintah Kecamatan. Sementara pengelolaan candi setiap harinya dikelola Pemkab Klaten.

” Desa cuma ketempatan dan mendapatkan bagi hasil. Dari total 100 % pemasukan, untuk BPCB 50 % dan untuk Pemkab 50 %. Sementara untuk pendapatan desa diambilkan 50% dari 50 % jatah Pemkab. Dari itu masih kotor, karena masih dipotong Rp. 500 untuk asuransi dan gaji 1 orang THL. Ada 2 THL, 1 digaji Pemkab dan 1 jadi tanggungan desa,” jelas Wahyu Tri Wibowo saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/09/2020) siang.

Lebih lanjut, untuk pengembangannya dari keberadaan candi tersebut sedang dikembangkan. Guna memaksimalkan potensi pendapatan desa, Pemerintah Desa Kebondalem Kidul diantaranya mengembangkan potensi yang ada. Seperti Wisata Kuliner, Wisata Budaya dan permainan anak. Untuk pengembangan itu sempat terhenti karena Pandemi Covid-19 dan akan segera dilanjutkan dengan memanfaatkan tanah kas desa yang ada di samping candi.

” Pengembangan lain ada ternak kuda yang sudah ramai dan dikelola Paguyuban Turonggo Manunggal Raharjo. Teknisnya, peternak-peternak kuda di Kebondalem Kidul dikumpulkan dan difasilitasi di tanah kas desa. Pemberdayaannya bendi dan kuda tunggangan. Tarif wisatawan untuk kuda tunggangan Rp. 10.000 untuk Bendi Rp.20.000. Pemasukan untuk BumDes adalah 10 % dari tarif itu. Rutenya bendi muteri candi, kalau kuda tunggangan muteri kolam yang ada di sekitar candi. Kuda-kuda sudah bisa beroperasi setiap hari mulai pagi sampai sore,” imbuhnya.

Besaran Dana Desa juga menjadi kendala tersendiri. Menurut Wahyu, desanya termasuk 3 desa dengan Pemasukan Dana Desa terkecil yaitu sekitar Rp. 800 juta.

telah dibaca: 320 kali

Bagikan di:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *